Rabu, 23 Juli 2014

#MovieCorner #17: The Fault in Our Stars

Warning! Spoiler alert!

Summer is still running out there, and there are still number of movies to watch. Kalau kemarin-kemarin gue review film-film ber-genre action, sekarang nambah variasi dengan film ber-genre romantic drama berjudul The Fault in Our Stars.


Well, sorry for a bit late to review this one, karena memang awalnya nggak ada niat untuk nonton film ini di bioskop. Rencananya sih pengen baca dulu novelnya karena beberapa temen yang bilang bahwa it is one of John Green’s masterpiece, tapi ternyata kenyataan berkehendak lain dan jadilah gue nonton ini meskipun telat banget, hehe.

TFIOS bercerita tentang sepasang remaja penderita kanker yang sedang menjalin cinta bernama Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley) dan Augustus Waters (Ansel Elgort) yang pertama kali bertemu di sebuah kelompok pendukung kanker. Hazel menderita kanker paru-paru stadium 4, sedangkan Gus menderita osteosarkoma yang menyebabkan kaki kanannya diamputasi. Hazel sangat menyukai novel berjudul An Imperial Affliction karangan Peter van Houten (Willem Dafoe), dan ia merekomendasikan Gus untuk juga membacanya. Gus sangat tertarik dengan novel tersebut dan itu membuat mereka rela terbang ke Amsterdam untuk langsung menemui van Houten karena mereka penasaran dengan ceritanya yang berakhir begitu saja setelah Anna, si pemeran utama dalam novel, meninggal akibat leukimia yang di deritanya. Di tengah kondisi Hazel yang sempat memburuk, juga kanker Gus yang tiba-tiba kembali menjalar di tubuhnya, they made such a marvelous story to be watched.


Bagi yang familiar dengan wajah pemeran utama Hazel dan Gus, mereka adalah Shailene Woodley dan Ansel Elgort, dua wajah yang juga bermain sebagai peran utama di film distopia berjudul Divergent (2014). Bedanya, ketika di Divergent mereka berperan sebagai kakak-adik, namun di film drama romantis ini mereka berperan sebagai teenage couple. Disutradarai oleh Josh Boone, film adaptasi novel karangan John Green berjudul sama ini memberikan warna segar tersendiri khususnya untuk genre drama romantis, setelah terakhir gue nonton The Lucky One.


Dalam film drama romantis, salah satu hal yang harus ditonjolkan adalah kekuatan cerita. Karena diadaptasi dari novel, rangkaian cerita sudah otomatis tersusun rapi untuk dipindahkan dalam sebuah script, tapi bukan berarti itu adalah hal mudah bagi seorang sutradara. Ia tetap harus memilah adegan mana yang cocok untuk difilmkan dan adegan mana yang harus tetap ada dalam buku, and I think Boone made it good, at least for the movie version. Boone juga membuat klimaks dalam twist as soft as possible untuk meminimalisir kerancuan cerita dalam film, dibuktikan dengan cerita yang padu dari awal hingga akhir.


Besides, nggak usah ditanya tentang penjiwaan hebat Sheilene dan Ansel yang emang keren banget, baik dalam berperan sebagai remaja berkanker yang sekarat sekaligus teenagers who are in love to each other. Mereka jelas membuat situasi genting menjadi semakin genting, dan situasi sedih menjadi semain sedih. It is not a broken-hearted story, but, like Hazel said, it is our choice to choose how to tell sad stories.


Unfortunately, gue belum punya kesempatan untuk baca novelnya, jadi gue nggak tau seberapa banyak hal yang terlewatkan dari novel ke filmnya. But, overall, if I may say, is good enough to those who starve of love stories. Happy watching! J


Rate: 8/10

The Fault in Our Stars
Drama – Romance
126 minutes

Director              : Josh Boone
Production Co  : Temple Hill Entertainment
Released              : 2nd July 2014(Indonesia)

Information and picture sources:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar