Minggu, 22 Juni 2014

Let's Go to the Beach!







(Left to Right: Agun, Erma, Izul, Acong, Meta, Pipit, Jek, me, Adit, Adel, Teten)


Taken at Santolo Beach, Garut; 17-18th of May 2014
Thanks to Padomo and Friends :)


"The three great elemental sounds in nature are the sound of rain, the sound of wind in the primeval wood, and the sound of outer ocean on a beach."
Henry Beston

#MovieCorner #13: How to Train Your Dragon 2

Warning! Spoiler alert!

June means summer, and it also means that movie invasion is coming, everybody!

Perlu rekomendasi? Jangan khawatir, karena salah satu production house ternama Hollywood, Dreamworks, telah menyiapkan satu film animasi keluarga yang cocok ditonton untuk pembuka musim panas sekaligus musim liburan. Yap, sekuel lanjutan dari How to Train Your Dragon yang juga diberi judul How to Train Your Dragon 2 sudah dirilis di bioskop-bioskop tanah air sejak tanggal 13 Juni kemarin.


Film keduanya ini menceritakan tentang kelanjutan hidup bangsa Viking di pulau Berk setelah lima tahun sejak Hiccup (Jay Baruchel) menyelamatkan dan menyatukan naga-naga untuk hidup berdampingan dengan bangsa Viking. Dengan naganya yang bernama Tootless, Hiccup memiliki hobi baru yaitu menjelajah dan menemukan tempat-tempat baru untuk kemudian digambarkan dalam peta yang ia buat sendiri. Suatu hari ia dan Astrid (America Fererra), kekasihnya, menemukan sebuah benteng yang rusak karena diserang es, dan mereka juga bertemu dengan pemburu naga bernama Eret (Kit Harrington) disana, yang mengaku bahwa ia adalah bawahan pengendali naga yang kejam bernama Drago (Djimon Honsou). Hiccup ingin mencoba berdiplomasi dengan Drago namun ayahnya, sang ketua suku Viking, Stoick (Gerard Butler) tidak setuju dengan idenya. Hiccup kemudian kabur dan  diculik oleh seorang pengendara naga lain, dan dibawa ke sarang naga dari es yang penuh dengan ratusan naga liar. Hiccup kemudian sadar bahwa ia harus menyelamatkan naga-naga tersebut, juga Berk, dari sasaran Drago.


Film arahan sutradara Dean DeBlois ini nampaknya sukses menggaet perhatian penggemar film animasi di dunia. Pasalnya, How to Train Your Dragon 2 mendapat sambutan meriah saat premiere, yang dibuktikan dengan ratingnya yang mencapai angka 8.6 serta meraup hingga $49,451,322 di USA di minggu pertama pemutaran filmnya (IMDb.com). Karena jedanya yang lumayan lama dengan sekuel pertamanya yang dirilis Maret 2010 lalu, nggak heran jika kisah lanjutan dari Hiccup dengan Tootless ini menjadi salah satu film yang paling ditunggu-tunggu tahun ini.

Dreamworks, sekali lagi, membuktikan bahwa ditangannya film animasi bisa menjadi sesuatu yang worth to watch. Dimulai dari segi audio visual effect, hal yang paling utama dan krusial, yang diberikan sesuai dengan konsep maturity. Dalam film ini, kombinasi suasana dan warna terlihat lebih gelap, seolah menggambarkan Hiccup yang telah beranjak dewasa dan terlibat dengan tanggung jawab besar yang dipikulnya, berbeda dengan filmnya yang pertama yang terkesan lebih colorful. Dan sebegitu nyatanya kontribusi efek audio dan visual, membuat How to Train Your Dragon 2 terlihat jauh lebih fresh dari film pertamanya.



Kemudian ditambahkan dengan jalan cerita yang penuh kejutan. Klimaks datang silih berganti dalam filmnya, yang terutama dialami oleh Hiccup sang tokoh utama. Itu membuat jalan ceritanya nggak bisa seketika tertebak, dan unexpected, sehingga kesan penasarannya membuat penonton ingin menyaksikannya hingga akhir.

Hiccup bisa dibilang ada dalam posisi up and down di film tersebut. Ia memegang kendali atas seluruh story twist disana. Semua yang berkaitan dengan dia begitu di explore, begitu di perlihatkan sehingga itu menjadikannya sebagai tonggak dari cerita, juga sebagai penggerak emosi penonton. Gue sendiri nggak begitu sedih saat Stoick mati, karena Hiccup nggak kentara menunjukkan ke penonton. Ia hanya sedih sesaat, kemudian seperti melupakannya dan melanjutkan untuk memburu Drago. It is unfortunate.

But overall, the film is very recommended, especially if it is watched with the family or friends. Happy watching. J


Rate: 8.5/10

How to Train Your Dragon 2
Action – Adventure – Animation
102 minutes

Director              : Dean DeBlois
Production Co  : DreamWorks Animation, Mad Hatter Entertainment
Released              : 13rd June 2014 (Indonesia)

Info and picture sources:

Sabtu, 21 Juni 2014

Lengkong Jaya Squad; Memories of KKN, Time by Time

A year ago...

(Lengkong Jaya, Garut; 25 June - 30 July, 2013)


Now...

Left to Right: Bombom, Acong, Enjang, Ayi; Apip, Adya, Ema, me, Intan, Ningsih)
(Papyrus, Bandung Indah Plaza; May 18th, 2014, minus Dwi)

"It is one of the blessing of old friends that you can afford to be stupid with them."
Ralph W. Emerson


#FoodSpot #11: Steak and Melt (SAM)

Selamat pagi, Bandung, dan selamat hari Sabtu!

Masih belum menyerah dengan kuliner Bandung yang membludak tak terbendung dari yang merakyat hingga yang mendunia? Nih gue tambahin deh dengan review spot kuliner yang juga nggak kalah menarik. Yang akan gue bahas berikut ini adalah sebuah western foodspot dengan steak and melt sebagai spesialisasinya, named Steak and Melt (SAM).


SAM ini hanya ada satu di Bandung, yaitu di mall Paris Van Java tepat bersebelahan dengan Richeese Factory karena SAM memang satu manajemen dengan Richeese Factory. Begitu masuk, suasana country a la Amerika sangat kental terasa sebagai dekorasi interior inti yang ditampilkan di resto ini. Tempatnya agak sedikit lebih kecil dari Richeese, namun dibuat dua tingkat juga.



Menu yang gue pesan adalah Fire Burg, dan menu ini bisa didapatkan dengan harga hanya 11k aja. Kenapa? Soalnya (untungnya) gue masih menyandang status mahasiswi dan hanya dengan menunjukkan KTM yang masih berlaku, gue bisa menimati (hanya) menu tersebut dengan harga yang murah untuk sebuah steak. Promo ini sebenarnya berlakunya udah lama banget dan entah kapan berakhir, jadi nggak heran kalo rata-rata yang dateng kesini juga mahasiswa oportunis model gue banget lah, hehe. Untuk minumnya sendiri nggak begitu banyak pilihan, hanya mineral water, Frutarian tea, pink lava, dan softdrinks.

Fire Burg promo poster

Makanan nggak langsung ready jadi harus ngantri menurut nomor antrian yang dikasih bersamaan dengan bon pembayaran, dengan sistem panggil gitu. Temen gue yang dateng belakangan, tertarik dengan menu melt-nya, jadilah dia nyusul memesan vegan melt asin (melt-nya sendiri tersedia dengan pilihan isi asin dan manis).


Sekitar 15 menit nunggu, akhirnya giliran gue dipanggil juga. Steak ini merupakan grilled steak yang bukan daging utuh, melainkan daging giling yang biasa dipakai untuk daging burger (dari namanya aja udah Fire Burg, kan, hehe). Steak-nya tersaji di atas hot plate dengan saus Fire Wings a la Richeese dengan tingkat kepedasan dari 0-5, dengan kentang dan sayur sebagai pelengkap. Bagi yang nggak pengen kentang goreng, bisa milih kok antara mashed potato dan nasi. Walaupun harga murah, rasa nggak murahan kok. Steaknya enak, di grill matang seluruhnya.


Vegan melt yang temen gue pesen terdiri dari roti gandum dengan isian sayuran dan keju. Ukurannya lumayan besar dengan appropriate price, yaitu hanya 20k saja. Sayang gue nggak sempet ambil gambarnya karena gue sibuk kepedesan ama Fire Burg gue sendiri, hehe. Untuk vegan melt yang temen gue pesen itu, dia bisa dapet free salad yang bisa diambil sendiri di booth yang telah disediakan.


I rate 8/10 for Steak and Melt (SAM).


You can click the account for other infomation:

Twitter: @steakandmelt

Location: Sky Level Paris Van Java (beside Richeese Factory), Jl. Sukajadi 137-139, Bandung

Precious Time

Once again, having a quality time together. Sharing stories, happiness, and foods, of course. So glad to see you. Thanks, buddies!

















(Tokyo Connection, Friday 20th, 2014; minus: Alif, Meli, Yura, dan Echi yang datengnya cuma sakiceup.)


"You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them." 
(Desmond Tutu)

"There is nothing I value more than the closeness of friends and family,  a smile as I pass someone on the street."
(Willie Stargell)

Rabu, 18 Juni 2014

#MovieCorner #12: Maleficent

Warning! Spoiler alert!

Ada yang kangen dengan kemunculan Aunty Angelina Jolie di layar lebar?

Cocok kalo gitu, soalnya si tante ini lagi ada di salah satu film jebolan Disney yang sedang diputar di bioskop tanah air saat ini, dengan judul Maleficent.


Tapi, kali ini tante Jolie nggak bakal terlihat membawa senapan laras panjang atau gatling gun seperti di film-film action sebelumnya, karena dalam film ini ia memerankan tokoh antagonis sekaligus pemeran utama dari kisah “Sleeping Beauty”. Yup, she is Maleficent herself! Dikisahkan ia dulunya adalah seorang peri baik hati penjaga kerajaan hutan yang bernama The Moors, yaitu kerajaan yang dihuni oleh peri-peri dan makhluk hutan yang juga menjadi incaran kerajaan manusia dengan rajanya yang tamak dan serakah. Suatu hari Maleficent mengalami pengkhianatan yang sangat kejam dari Stefan (Sharlto Copey), orang yang dia anggap kekasih. Hal itu mengubahnya dari peri yang terkenal dengan kebaikan hatinya menjadi sesosok peri yang keras dan mengharapkan balas dendam. Ia lalu memberikan kutukan pada Putri Aurora (Elle Fanning), putri dari Raja Stefan, untuk tertidur selamanya di hari ulang tahunnya yang ke-16 karena tertusuk jarum pemintal. Aurora pun kemudian diasuh oleh ketiga peri dari The Moors atas perintah sang raja, yang kemudian menjelma menjadi manusia. Seiring dengan tumbuh besarnya Aurora, Maleficent yang juga ikut mengawasi perkembangannya akhirnya menyadari bahwa Aurora mengajarkannya banyak hal untuk melupakan balas dendamnya.


Dilihat dari rating di IMDb.com untuk Maleficent yang hanya bertengger di angka 7.5, menurut gue Maleficent hanya dianggap sebagai pemuas dahaga dan pemanja anak-anak dengan kisah fairytale thingy. Dengan tagline ‘Don’t believe in fairy tale”, Maleficent mampu menjadi semacam spin-off dari kisah Putri Tidur versi animasi Disney bertahun-tahun yang lalu dengan cara mengubah cara pandang orang-orang tentang tokoh antagonis film yang menjadi baik antagonis maupun protagonis dalam film.


Maleficent sendiri, sebagaimana film Disney yang lain, selalu mengedepankan visual effect daripada jalan cerita atau plot, karena Disney punya pelanggan tersendiri yaitu kalangan anak-anak, yang notabene tidak terlalu mementingkan jalan cerita as long as they understand it. Gue sendiri ragu untuk nontonnya, karena agak trauma dengan film Disney sebelumnya, Oz: The Great and Powerful.


But, kekecewaan gue ternyata nggak berulang begitu gue nonton Maleficent. It’s totally different. Melficent begitu memukau di bagian latar dan efek audio visual (reminds me of the setting of The Hobbit, by the way). Alur dan story twist yang apik dan smooth juga menjadi keunggulan tersendiri dari film ini, walaupun di beberapa story twist terlihat begitu terburu-buru dan ngaclok. Karena memang tujuannya untuk anak-anak, gue sangat paham kalau Disney membuat ceritanya begitu sederhana untuk memastikan agar anak-anak mengerti dan memahami isi cerita dan pesan moral di film yang mereka tonton.

But, yes, I’ll admit, it’s entertaining enough. Cocok untuk jadi tontonan keluarga yang lumayan menghibur. J



Rate: 8/10


P.S.: Yang berperan sebagai Aurora kecil (scene saat Aurora minta gendong ke Maleficent), itu sebenarnya adalah putri dari Angelina Jolie sendiri, Vivienne Jolie-Pitt. She is so cute!


Maleficent
Action – Adventure – Family
97 minutes


Director              : Robert Stormberg
Production Co  : Walt Disney Pictures, Moving Picture Company, Roth Films
Released              : 30th May 2014 (Indonesia)

Info and picture sources:

Sabtu, 14 Juni 2014

#FoodSpot #10: Wiki Koffie

Siang, Bandung!

Ada rencana untuk hang out hari ini? Kalau gitu let me recommend you a place for nongkrong asyik.

Kali ini yang akan gue bahas adalah salah satu kafe di daerah Braga yang letaknya strategis banget, yaitu pas di pinggir bunderan di junction antara jalan Braga dan jalan Lembong. Jadi, kalau lu habis nonton atau habis photo shoot di Braga, bisa langsung jalan sedikit aja ke kafe ini. Oh iya, nama kafenya adalah Wiki Koffie. Letaknya yang strategis membuat kafe ini cocok untuk ngopi-ngopi sambil menikmati suasana jalanan yang relatif ramai lancar di sekitar situ.


I had to wait for about ten minutes before I got the table. Tapi Wiki juga menyediakan bangku di luar khusus untuk waiting list people, jadi lu nggak perlu berdiri untuk nunggunya. Begitu masuk, tepat banget dengan tebakan gue bahwa rata-rata yang nongkrong disana adalah anak muda. 





Tempatnya memang agak kecil, hanya ada sekitar tujuh meja yang ditata sedemikian minimalis dan unik. Interiornya sendiri didesain ala vintage gitu, beberapa lukisan dan gambar bertema kopi yang vintage (?) menghiasi dinding di Wiki Koffie. Photo-able banget deh.



I conclude that the price of the foods and drinks must be cheap. Tebakan gue bener lagi, begitu liat menu langsung kalap mata karena emang tergolong murah untuk kafe di pusat kota, apalagi Braga.  Sorry for not including the menu list in this blog, lupaaaa. Hehe.

Dari namanya sendiri, udah ketebak dong ya kafe ini pasti mengusung kopi-kopian sebagai mainstay drink. Bener banget. Kopi-kopian disini, dilihat dari menunya, kebanyakan adalah kopi impor; misalnya kopi Hawaii dan Vietnam. Sempet tergiur juga pengen nyobain kopi-kopi yang belum pernah gue cobain, tapi berhubung nggak bisa lama-lama jadilah gue hanya memesan thai tea dan kue telur oreo vanilla. 



Lu bakal terkejut karena lu bisa mendapat segelas lumayan besar thai tea dengan harga hanya 10k saja. Dan kue telurnya sendiri dibandrol hanya 12k.



Nunggu makanan served-nya sendiri sekitar lima belas menit, dan makannya jadi in a rush banget. Nyesel kurang lama disana padahal thai tea dan kue telurnya sendiri enak banget. Kombinasi susu dan thai tea-nya seimbang, nggak kemanisan dan nggak hambar. Dingin dan manisnya thai tea cocok banget digabung dengan kue telur yang juga manis tapi hangat. Berasa pas banget apalagi di luar hujan yang lumayan deras tapi dinginnya nggak masuk ke dalam kafe. Next time harus kesini pas lagi santai dan harus banget pesen kopinya.

And finally, I rate 8.5 for Wiki Koffie. J


For your information, you can click the the account below.

Twitter           : @wikikoffie

Location         : Jalan Braga No. 90, Bandung

Rabu, 11 Juni 2014

#MovieCorner #11: Edge of Tomorrow

Warning! Spoiler alert!

Who’s ready for alien invasion (again) to earth?

If you are ready, you should go to the theater and see the newest alien-invasion-theme movie, Edge of Tomorrow.



Film ini cocok banget diperuntukkan untuk pecinta film action, dan juga pecinta Tom Cruise pastinya. Yap, Om Cruise jadi pemeran utama ditemani oleh Tante Emily Blunt di film bertema penyerangan alien ke bumi ini. Aksinya di film ini nggak kalah seru kok dengan aksi-aksi heroiknya yang lain di film bertema agen rahasia yang menganggkat namanya menjadi sebesar sekarang, Mission Impossible.

Edge of Tomorrow (2014) ini menceritakan tentang invasi alien yang disebut Mimic ke bumi dengan membabi buta di wilayah Eropa dan tak bisa dikalahkan oleh pasukan militer di bumi karena jumlahnya yang sangat banyak dengan kekuatan yang mematikan. Mayor William Cage (Tom Cruise), adalah seorang militan yang belum pernah beraksi langsung untuk perang sungguhan, yang tiba-tiba harus ikut berperang dalam perang di tepi pantai Perancis. Para Mimic tau akan ada penyerangan, dan ribuan pasukan langsung tewas dalam waktu beberapa menit. Cage sendiri tewas karena ia meledakkan granat untuk membunuh salah satu Mimic. Cage tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya sedang ada di bandara Heathrow yang dijadikan pangkalan militer di waktu sebelum ia diharuskan bertempur. Kejadian sebelum perang hari itu terulang kembali hingga ia harus tewas di medan perang dan mengulangi harinya lagi. Ia terjebak dalam lingkaran waktu sehingga setiap ia tewas dalam medan perang, ia selalu kembali terbangun di bandara dan mengulangi harinya lagi. Tidak ada yang percaya padanya kecuali Rita Vrataski (Emily Blunt), seorang prajurit yang menjadi ikon pahlawan karena telah membunuh ratusan Mimic di Verdun, yang ternyata pernah memiliki kemampuan yang sama dengan Cage ketika ia berperang di Verdun. Dengan terus mengulang hari dan belajar dari hari sebelumnya, Cage harus berjuang untuk menemukan cara dan mengalahkan induk Mimic, juga berjuang melawan kejenuhannya mengulang hari lagi.



Edge of Tomorrow, if I can say, is one of the most must-see-movie in this summer. It rates 8.2 in IMDb.com, and for me, the movie which has above-8 for its rating is such a pretty good movie. Klise ya, kalo gue bilang visual effect dan action-nya amazing, karena itu adalah hal mendasar yang memang sudah harus ada. Kalo harus ada alien, Hollywood akan membuat mereka hidup senyata-nyatanya. Yeah, they are pretty good in it. Edge of Tomorrow adalah film adaptasi dari novel manga berjudul All You Need Is Kill yang ditulis oleh Hiroshi Skurazaka, so it is Japanese based story.

Thus, what is on it? Ide cerita Edge of Tomorrow ini sebenarnya juga seperti diadaptasi dari beberapa ide cerita dari film lain, seperti Source Code (2011) dan The Butterfly Effect (2004). Namun, sentuhan sentuhan dari sutradara Doug Liman rupanya membuat ceritanya cukup epic enough karena disusun dengan sangat apik. Kemudian, you won’t believe when I say itu adalah kali pertama Emily Blunt berlaga dalam film bergenre actionHollywood always puts the right people in the right position. Kalo Tom Cruise mah udah nggak diragukan lagi kan debutnya di film laga manapun. Selain itu juga porsi masing-masing unsur gue rasa tepat; tegangnya dapet, actionnya dapet, sampe adegan-adegan lucu yang dimunculkan juga sesuai porsi. Dan yang paling mengesankan adalah, gue merasakan banget gimana bosen dan jenuhnya mati-hidup-mati-hidup yang dialami Cage, because we can understand him though he is silent.



What’s missing? Detail. Gue merasa film ini terlalu terburu-buru, such in a rush. Filmnya nggak menceritakan bagaimana Cage benar-benar belajar untuk menghadapi Mimic di kehidupan selanjutnya. Bagi seseorang yang belum pernah bertempur, apalagi menghadapi alien, hal tersebut mungkin akan sangat sulit. Kesannya jadi lebih banyak matinya daripada belajarnya, dan beberapa adegan nggak dapet feel-nya.

Tapi walaupun begitu, gue tetep merekomendasikan Edge of Tomorrow untuk ditonton. It is the real war for Cruise, beda dengan Oblivion.



Rate: 8/10

Edge of Tomorrow
Action – Science Fiction
113 minutes

Director              : Doug Liman
Production Co  : Warner Bros., Village Roadshow Pictures
Released              : 6th June 2014 (Indonesia)



Picture and info sources:
(all retrieved 11 June, 2014)

Selasa, 03 Juni 2014

The Most Dangerous Thing

Ketika orang-orang telah melakukan banyak cara untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, no matter what the works are, mereka telah melakukan pengembangan terhadap diri mereka sendiri.

Pekerjaan yang dilakukan, berpengaruh mentally and physically terhadap para pekerjanya since they are accused to do it well.

Mentally, because the works need the capability of people to make it perfectly done by their knowledge of the works.
Physically, because the works need people's body to run the works, whether to do the extremely hard job or the simple one.


Tapi, when it is done, jangan cepat merasa puas.

It is the most dangerous thing.


DON'T Lose Your Path...

DON'T lose your path,
because once you do it, 
you frequently won't find the way back.

DON'T lose your path,
because if you get lost, 
none will help you out.

DON'T lose your path,
because it's the only way to know who you are.

DON'T lose your path,
because you want to please people you don't know.

DON'T lose your path,

because you're too angry and sick with it.









DON'T lose your path --your way and yourself--,
because once you lose your path, you won't be the same anymore.