Minggu, 29 September 2013

Senja Tengah Kota

Sore ini begitu teduh, tipikal sore-sore di musim tanggung antara musim kemarau dan penghujan. Aku termenung. Bukan tanpa pikiran, melainkan dengan khusyuk mendengarkan pria di depanku berbicara. Seorang teman sebaya. Sudah sekitar dua jam ini kami duduk disebuah kafe di tengah kota, sama-sama menghabiskan sore hingga petang datang. Sekedar mengobrol ringan dan berbagi cerita satu sama lain. Awalnya aku datang sendiri kemari, dia pun begitu. Lama-lama kami sama-sama penasaran dan akhirnya berkenalan. Seringkali kami janjian datang ke tempat ini, seminggu dua atau tiga kali. Kemudian kami jadi ketergantungan, jika ia tidak bisa datang, maka aku pun memutuskan untuk tidak datang, begitupun sebaliknya.

Lambat laun aktivitas bertemu dengannya adalah candu bagiku. Aku selalu jadi tak sabar untuk bertemu dengannya. Menurutku ia menarik, namun dari pembicaraannya selama ini tak banyak orang yang tahu itu. Wawasannya luas, mungkin aku sudah tidak memerlukan Google lagi untuk mencari tahu banyak hal ketika mengobrol dengannya.

Seperti hari ini, ia duduk di depanku, bercerita tentang film adaptasi novel terbaru yang sedang booming. Aku suka film, sama dengannya. Namun ia tak pernah mengajakku untuk nonton film bersama. Aku? Mana berani mengajaknya pergi berdua saja. Aku lebih suka menghabiskan waktu disini, bersama senja dan pria hitam manis di depanku ini.

Senja di tengah kota sama saja bagiku sebelumnya. Tidak ada yang merubahnya menjadi manis ketika kemudian senja itu melabuhkan seorang anak manusia untuk menguntai kata-kata dan menghabiskan bercangkir-cangkir kopi disini. Sering kudengar orang-orang begitu mengagungkan senja, entah senja yang muncul setiap menjelang petang atau senja yang mereka ciptakan sendiri. Senja yang selalu mengikat siang dan menjadikannya gelap. Namun yang aku temukan di matanya itu bukan senja yang seperti itu, melainkan senja yang tak memiliki ufuk Barat. Senja yang dengan bias-bias kemerahannya mampu menarik awan menjadi berarak, yang mampu menyihir angin menjadi sepoi dan mempermainkan layang-layang. Kamu, senja di tengah kotaku.

 to the one and only. You know what I mean.

Aulia Angesti
Bandung, September 29th, 2013. 00:05