Rabu, 05 Februari 2014

#MovieCorner #2: Comic 8

Warning! Spoiler alert!


Comic 8 Movie Poster


Pasti sudah dengar dong tentang Comic 8? Ya, Comic 8 adalah judul dari sebuah film dengan genre komedi laga besutan sutradara Anggy Umbara di bawah naungan payung Falcon Pictures. Film yang semua pemeran utamanya adalah jebolan dari acara televisi populer Stand Up Comedy ini menceritakan tentang delapan manusia dengan pribadi yang beda dan unik yang secara kebetulan bersamaan merampok sebuah bank. Anggy Umbara sendiri merupakan sutradara yang dikenal lewat karya film sebelumnya yaitu Mama Cake dan Coboy Junior: The Movie.

Adalah Fico, Babe, dan Bintang sebagai perampok amatiran yang merampok bank karena mereka memang ingin kaya raya. Kemudian Ernest, Kemal, dan Arie sebagai kelompok perampok dengan persenjataan lengkap yang cukup berpengalaman karena mereka sudah berhasil melumpuhkan markas salah satu gembong narkoba terkenal se-Tanjung Priok. Terakhir, Mongol dan Mudy yang berperan sebagai perampok yang jago berkelahi dan tembak-menembak namun sebenarnya mereka berniat merampok bank karena ingin menolong anak-anak yatim piatu.

Kemudian hadir pula kameo dari artis-artis terkenal yang juga terlibat dalam acara Stand Up Comedy seperti Pandji yang berperan sebagai dokter sebuah rumah sakit jiwa, Indro ‘Warkop’ yang berperan sebagai salah satu nasabah bank, Candil si pengantar pizza, juga artis cantik Nikita Mirzani dan Nirina Zubir yang masing-masing berperan sebagai teller bank dan polwan cantik.




Jika dilihat dari aktor dan aktris yang ada, ekspektasi yang ada dalam pikiran saya adalah film ini pasti akan sangat menghibur dengan 'guyonan-guyonan' khas dari masing-masing komik. Apalagi setelah saya lihat trailer-nya pertama kali saat saya hendak menonton sebuah film Barat yang sedang diputar di bioskop. Namun timbul juga pikiran usil seperti: “Ah, paling lucunya dibuat-buat karena kalo udah dalam film apa yang diekspektasikan kadang beda,” atau “Palingan garing. Soalnya kan aktor mesti nurut ama skrip,” dan lain sebagainya.

Bukan hanya saya, ternyata khalayak dunia maya juga sedang ramai membicarakan Comic 8. Namun timbul juga dalam pikiran, “Kadang penilaian anak-anak Twitter kan suka lebay. Overrated kalo udah ngomentarin apa-apa, apalagi kalo urusan ‘menjilat’ segala dengan mention artis-artis favorit terkait.” Ups.

Menurut info dari Twitter, penonton premiere Comic 8 tembus 65 ribu. Jumlah yang sangat mengesankan, atau overrated? Kemudian pergilah saya ke bioskop tertanggal 5 Februari 2014 untuk membuktikan sendiri seperti apa film yang katanya ‘beda’ itu. Film di putar pukul 14.55, sedangkan saat saya datang sekitar pukul 13.40, sekitar 60% seat sudah terisi. Lumayan juga, padahal Comic 8 sudah seminggu tayang di bioskop. Hingga lampu diredupkan, saya melihat bahwa seat sudah terisi penuh hingga yang paling depan.

Langsung pada film, dibuka dengan aksi penyanderaan tiga artis oleh kedelapan komik, masing-masing dari mereka mengemukakan tuntutan mereka yang ‘nyentrik’. Ada yang ingin ibukota dipindah ke Papua, ada yang ingin Jakarta bebas banjir, dan lain-lain yang mengundang gelak tawa dari seluruh penonton di dalam studio bioskop.

Selanjutnya, cerita berlanjut pada latar belakang masing-masing komik dan mengapa mereka bisa merampok sebuah bank yang sama. Adegan laga muncul ketika Ernest masuk dan awesomely menembakkan senapan laras panjangnya ke atas sebagai tembakan peringatan, diikuti dengan Kemal dan Arie. It’s pretty cool!

Semakin jauh durasi film berjalan, semakin saya menilai bahwa beberapa ekspektasi negatif saya salah. Ternyata sang sutradara mengemas film ini dengan sangat apik. Seperti lawakan-lawakan segar yang keluar dari lawakan para komik. Mereka tidak diarahkan dengan naskah yang ‘out of their box’, sebaliknya naskah yang tampaknya menyesuaikan lawakan khasnya para komik masing-masing. Saya seperti menonton Stand Up Comedy dalam sebuah alur. 

Hal lain yang juga patut saya acungi jempol adalah jalan ceritanya yang unik dan tidak tertebak ending-nya. Kejutan demi kejutan dihadirkan dalam film yang membuat Comic 8 masuk kategori 'lumayan, lah'. Ketika saya tahu siapa dalang sebenarnya dibalik seluruh kejadian tersebut, pikiran saya langsung tertuju pada sebuah film Barat yang tahun lalu rilis dan juga laris berjudul Now You See Me. Kemiripan dari kedua film tersebut sangat kentara di bagian ending, ketika keberadaan dalang utamanya diketahui di akhir dan tidak disangka-sangka.

Kemudian ada pula sentuhan sentilan-sentilan kritis yang terkesan usil dibalik percakapan atau tindakan para aktor dan aktris, baik yang secara jelas terlihat dan terdengar, ataupun tidak. Seperti Kemal yang menyinggung tentang 'acara alay yang joget-joget di TV'. juga  Mudy yang bicara tentang koruptor sebagai pencuri sebenarnya, atau Nirina yang berkomentar sinis terhadap ucapan Boy yang selalu menggunakan bahasa Inggris setiap kali berbicara (seperti mengingatkan bahwa bahasa Indonesia juga tak kalah penting dibandingkan dengan bahasa Inggris).

Another? The camera angle. I love it, reminds me of Hulk. Saya suka sekali dengan penempatan-penempatan dua gambar atau lebih yang ada dalam satu frame. Terkesan elegan dan berseri. Tak ketinggalan slow motion dan animasi di bagian adegan laga which impressed me much.

Sayangnya, dibalik karya manusia yang hebat, pasti ada saja kekurangannya. Saya lihat kekurangan di film ini adalah beberapa kekakuan yang dibawa oleh para pemain yang terlihat dari tik-tok dialog, atau gelagat yang kadang berlebihan untuk merespon dialog aktor lain. Hal lain, ada pada efek animasi yang masih kasar dibandingkan dengan film laga Indonesia lain seperti The Raid atau Merah Putih.

From those explanation above, I conclude that this movie is good enough. Bisa dibilang beda dari film-film Indonesia kebanyakan, dan yang jelas it proves me wrong in several occasions. Comic 8 dapat dijadikan alternatif untuk 'escaping reality', atau sekedar mengisi waktu luang Anda. Worthy.




Rate: 7.5/10



Comic 8
Action - Comedy
90 minutes


Director          : Anggy Umbara
Producer(s)   : Hb Naveen and Frederica
Distributor     : Falcon Pictures
Released         : 29 January 2014


Picture and info source:
http://id.wikipedia.org/wiki/Comic_8, retrieved 5 February 2014

Rabu, 29 Januari 2014

#CookingExperiment #2: Seblak Siomay Ceker


Hello, again!
Masih di hari yang sama nih, guys. Sambil nungguin oreo cheese cake tadi siap makan, there is another recipe. Resep ini tergolong simple juga, simple banget malah. Clue-nya: makanan ini pedas dan basah, kemungkinan besar bakal ‘mengoet’ perut, lagi hip banget juga di Bandung sama seperti cheese cake tadi. Ya, seblak!
Jaman dahulu kala sih ya waktu aku SD-SMA (yang hobinya main ke rumah temen kalau ngga ngerujak ya nyeblak), seblak adalah makanan yang miskin gizi dan murah banget. Gimana engga, komposisi utamanya aja kerupuk mentah doang, yang kalo di warung-warung warnanya oranye (kerupuk yang biasanya ada di tukang bubur tapi dalam format yang belum di goreng alias mentah). Dimana coba letak gizinya? :p
Nah, sejak beberapa tahun terakhir ini nih, seblak jadi nge-hip banget di Bandung karena ternyata ngga hanya kerupuk aja yang jadi komponen utama. Ada bakso, sosis, mie, siomay, dan yang lagi trend banget sekarang sih kaki ayam atau ceker. Ada gizinya kan sekarang? Seblak juga jadi salah satu makanan yang tjotjok banget di makan saat musim hujan dan dingin-dingin kaya gini. Hangat dan pedasnya bikin melek.
Bikin seblak sih mudah banget, bumbunya aja sederhana; bawang merah, bawang putih, kencur alias cikur, dan yang wajib mesti harus banget ada, cabe rawit atau cengek. Seblak mah kudu pisan lada, ceu. Ladana ge kudu lada pisan. Tapi, seblak yang aku buat ini jauh-jauh dari kerupuk, ngga seblak banget ya jadinya? Hehe. Lagi ngefans banget ama siomay dan ceker nih, jadi aku cuma buat dari bahan itu aja. Yuk mari kita list dulu belanjaan hasil hujan-hujanan belanja ke pasar tadi demi tercapainya resolusi hari ini.
-          Ceker/ kaki ayam 250gr: Rp. 5000
-          Siomay kering 1 bungkus: Rp. 2500 (isinya lumayan banyak)
-          Cabe rawit ½ ons: Rp. 2500
-          Kencur/ cikur: Rp. 500 (itu ngga tau segimana persisnya tapi lebih dari cukup kok)
-          Bawang merah, bawang putih, dan telur sudah tersedia di rumah jadi ngga perlu beli, hehe.
-          Total: ± Rp. 15.000
 Cara bikinnya? It’s very simple. Let’s go!

Resep Seblak Siomay Ceker
Bahan bumbu:
-          3 siung bawang merah
-          2 siung bawang putih
-          3cm kencur/ cikur
-          Cabe rawit sesuai selera (aku tadi pakai sekitar 10 biji cabe rawit yang besar dan merah, tapi tetap terasa kurang pedas, udah mati rasa kali ya :p)

Bahan:
-          250gr kaki ayam/ ceker
-          1 bungkus siomay kering
-          1 butir telur
-          Air 500 ml - 650 ml (sesuai selera, karena aku suka yang agak berkuah, jadi menggunakan sekitar 650ml air)
-          Minyak secukupnya untuk menumis
-          Garam, merica, penyedap secukupnya

Cara membuat:
1.      Bersihkan kaki ayam, potong kukunya, lalu rebus hingga matang
2.      Haluskan bahan bumbu dengan tambahan sedikit garam
3.      Tumis telur, lalu masukkan bumbu, masak hingga matang
4.      Masukkan air rebusan kaki ayam tadi, masak sebentar
5.      Masukkan kaki ayam, tambahkan garam, merica, dan penyedap, biarkan hingga kuah agak meresap
6.      Masukkan siomay, aduk sebentar, angkat
7.      Sajikan selagi hangat

Untuk 3 porsi

Though it’s very very simple food to make, there are still some tips and tricks to do:
1.      Ada banyak orang yang mengeluhkan bahwa supaya benar-benar empuk, kaki ayam harus direbus lumayan lama (sekitar 30 menit lebih). Namun cara mengakalinya sih aku menggunakan panci fresto, cukup 10-15 menit kaki ayam sudah super empuk hingga tulang.
2.      Hindari menumis bumbu terlebih dahulu diikuti dengan menumis telur, bumbunya malah akan menempel pada telur dan kurang terasa kuat di seblak.
3.      Karena teksturnya yang mudah lembek, sebaiknya siomay kering di masukkan terakhir dan jangan dimasak terlalu lama. Tekstur yang masih renyah akan menambah nikmat seblak siomay ceker Anda.

(Ini versi pembuka, jadi masih porsi sedikit. Di wajan masih banyak. :9)

Last but not least, selamat mencoba! :)

#CookingExperiment #1: Oreo Cheese Cake

Evening, guys! (Is it evening already?) Hehe

Ingin berbagi cerita sedikit nih tentang masak-masak hari ini, sekalian memperkenalkan juga bahwa ini sesi pertama dalam percobaan masak-memasak yang aku tuangkan dalam blog dan dinamai #CookingExperiment (biar nge-hip seperti di Twitter gitu deh pakai tagar segala :p). Cerita mending enaknya dari awal proses belanja bahan-bahan dulu kali ya, hingga akhirnya ke tahap icip-menyicip , so here we go.
Cheese cake, jaman sekarang siapa sih yang ngga tau cheese cake? Cake yang hampir seluruh komposisinya berupa cheese cream itu memang sedang jadi primadona di kalangan pecinta kuliner. Hampir semua bakery menyediakan cheese cake, bahkan di Bandung sendiri sudah banyak bermunculan kafe-kafe yang mengusung dessert ini sebagai menu utama andalan.
Rasa dan macam dari cheese cake itu juga bervariasi; coklat, strawberry, blueberry, green tea, tiramisu (btw, tiramisu juga masuk golongan cheese cake ngga sih?), oreo, opera, manggo, dll. Yang jadi kesukaanku sih green tea, tiramisu, dan oreo. Hampir semua bakery yang pernah aku kunjungi ngga mengecewakan dalam hal dessert ini. Manisnya pas, komposisinya pas, rasanya pas, lembutnya pas, yang ngga pas ya harganya aja, kocek mahasiswi sih hehe.
Nah, terlintas lah di benak untuk bikin cheese cake sendiri, siapa tau bisa jadi lebih murah dan jadi pedoman juga untuk yang lain. Dimulai dari cari-cari resep dulu di Google, nemu deh beberapa resep yang lumayan (antara gampang dan susah), soalnya aku pertama banget ini bikin beginian, modal iseng lah namanya juga eksperimen hehe.
Resep yang aku ambil akhirnya yang paling simple, oreo cheese cake yang tanpa layer sama sekali (bukan cheese cake dong ya jadi oreo cheese haha). Itung-itung belajar lah, nanti kalo ada kesempatan ya nyoba lagi. Bahan-bahannya sendiri terdiri dari oreo, cream cheese, margarin plain, gula tepung, white chocolate, essence vanila, gelatin bubuk, butter cream.
Untuk oreo, margarin plain, gula tepung, white chocolate dan essence vanila banyak tersedia di pasar-pasar tradisional, nah bagian cream cheese dan gelatin yang susah, mesti di TBK atau toko khusus bahan kue. Saya sendiri dapet bahan tersebut di PD. Kijang Mas (Jl. Hariang Banga 6z, Bandung) atas rekomendasi seorang teman. Disana cukup lengkap dan harganya standar lah, berikut aku kasih bocoran harga belanjaan kemarin (Januari, 2014):

-          Cream Cheese “Yummy” Light 250gr: Rp. 27.500
-          “Collata” White Chocolate 250gr: Rp. 17.000
-          Oreo Biscuit Roll (paket 2 bungkus dalam satu kemasan): Rp. 12.000
-          Gelatin Bubuk ±100gr: Rp. 18.000
-          Margarin plain 500gr: Rp. 6000

-          Untuk gula tepung dan essence vanili aku ngga tau karena kemarin dapet nitip ke ibunda tercinta hehe
-          Total: ±Rp. 100.000

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dari bahan-bahan tersebut. Bagi kaum muslim berhati-hatilah untuk membeli cream cheese dan gelatin, karena kebanyakan cream cheese berasal dari merk luar seperti Perancis, namun ada juga yang lokal. Tanyakan juga pada penjaga toko apakah gelatin yang akan dibeli halal atau tidak. Pokoknya perhatikan dan pastikan kehalalan dari produk-produk tersebut.

Selanjutnya, langsung aja deh ya menuju proses pembuatan.

Resep Oreo Cheese (Cake) :p

Bahan Butter Cream:
-          150gr margarin plain
-          50gr gula tepung, ayak

Bahan Cheese Cake:
-          300 gr oreo (sekitar 2 bungkus), 200gr haluskan, 100gr cukup dipotong-potong
-          250gr cream cheese
-          200gr butter cream
-          75gr margarin plain, lelehkan
-          100gr white chocolate, lelehkan
-          50gr gula tepung, ayak
-          2 sendok makan gelatin, larutkan dengan 2 sendok makan air panas
-          5 tetes essence vanila
Cara membuat butter cream:
1.      Kocok mentega hingga sedikit mengembang dan warnanya agak putih
2.      Masukan gula tepung sedikit demi sedikit
3.      Diamkan dalam suhu ruangan

Cara membuat cheese cake:
1.      Campur 150gr oreo dengan mentega leleh, aduk hingga menggumpal
2.      Sediakan gelas kecil (diameter 5-6cm dengan tinggi 6-7cm), masukan campuran oreo dan mentega tadi ke dasar gelas, ratakan dan dinginkan dalam kulkas
3.      Cheese cake: Kocok cream cheese hingga lembut, masukkan gula tepung dan essence vanila, kocok rata
4.      Tambahkan white chocolate dan gelatin cair, kocok kembali
5.      Masukkan sedikit demi sedikit ke dalam kocokan butter cream sambil terus diaduk perlahan
6.      Tuang di atas alas oreo tadi, beri kepingan oreo, tuang sisa cheese cake. Beri taburan oreo di atasnya dan bekukan.

Untuk 6 porsi.

Simple kan resepnya? Based on “experience is the best teacher”, ada beberapa tips nih:
1.      Sebaiknya ukuran gelas jangan terlalu besar, karena seluruh kandungan cream itu akan terasa ‘enek’ kalo kebanyakan.
2.      Jika ‘keukeuh’ ingin banyak, sebaiknya tambahkan layer, supaya lebih kaya juga sensasi di lidahnya dan menghindari rasa ‘enek’ tadi.
3.      Butter cream yang udah di buat jangan terlalu lama di simpan, paling lama penyimpanan sekitar 2 atau 3 hari saja di dalam kulkas.
4.      Hati-hati dengan gelatin karena jika airnya kurang panas, ia akan menggumpal dan ngga akan bersatu dengan campuran yang lain.

Bagi yang penasaran, ini penampakan yang sudah jadi dan siap makan:


(Please banget jangan liat bentuknya, tapi rasanya :p)

Gimana, guys? Cukup mudah dan sederhana kan? Good luck, then! J

Minggu, 05 Januari 2014

Kembang Api


Tin..tiiiiin..!

Suara klakson terdengar dari belakang mobil yang sedari tadi tak kunjung bergerak maju. Jika biasanya aku merasa terganggu, namun kali ini tidak, meskipun orang itu membunyikannya berkali-kali. Ini malam tahun baru. Bukan sunyi yang mereka ingin, orang-orang malah mencari keramaian dimana-mana.

Langit Bandung tak cukup cerah malam ini. Tadi pagi ku lihat di televisi bahwa malam ini akan turun hujan berintensitas kecil, namun aku tetap memutuskan untuk keluar ketika Sis mengajakku meskipun aku tak begitu suka keramaian. Ini malam tahun baru, orang-orang mencari keramaian dimana-mana, aku salah satunya.

Lepas pukul delapan ia menjemputku, langsung menuju pusat kota. Daerah pegunungan di Bandung mungkin harusnya menjadi pilihan yang bagus untuk malam tahun baru, namun jika sudah malam saja baru keluar rumah, jangan harap perjalanan akan lancar hingga tujuan. Macetnya tak akan membuat orang mampu berpikir rasional lagi. Tekesan berlebihan, namun begitu adanya. Daripada kami emosi di jalan, kami memutuskan hanya berkeliling mencari titik keramaian. Sesekali kami berhenti untuk membeli cemilan atau menikmati lalu-lalang manusia.

Dan keberadaan Sis disana cukup menjadi pemanis. Sis ini bukan orang yang romantis. Sementara banyak pria di luar sana yang membelikkan wanitanya setangkai mawar di hari spesialnya, ia tak akan mau repot-repot membelikanku barang setangkai karena ia tahu aku tak pandai merawat bunga. Juga setelah lima tahun yang ku lewati bersamanya, tak pernah ia memberiku kesan romantis. Begitulah Sis, pikirannya sederhana dan praktis. Sungguh berbeda dengan pikiranku yang rumit dan membingungkan. Namun jauh dalam matanya, aku tahu dia sayang padaku, dan aku tak pernah menyangkalnya.

Anehnya, serumit dan membingungkannya pikiran dan hatiku, aku menikmati semua itu. Menikmati setiap detik bersamanya, menikmati setiap hari yang ku lalui dengannya, menikmati apa yang bisa ku nikmati dari sederhananya sesosok anak manusia di sampingku ini. Dengan segala keluguan yang ia punya, segala kepolosan yang ia bawa, dengan segala keajaiban yang aku rasakan tanpa perlu ia beritahukan padaku. Aku menikmati segala hal yang kulakukan dengan Sis.

Aku suka bagaimana sederhana pikirannya masuk ke dalam rongga pikirku dan membenahi segala hal rumit yang ada disana. Menelusup pelan namun pasti, meluruskan tiap helai benang-benang kusut disana, bukan dengan jari-jari yang membuatnya jadi panjang kembali, namun langsung ia gunting benang itu lalu ia jalin kembali sehingga pola pikir praktisnya lebih masuk akal bagiku ketimbang pola pikirku sendiri.

Pukul 23.55. Lima menit lagi perayaan resmi tahun baru di mulai. Kami masih disini, terjebak di antara puluhan mobil yang tujuannya sama, menuju Alun-alun Bandung. Beberapa orang sudah tak sabar untuk menyalakan kembang api terlebih dahulu. Bunyinya memekakkan telinga karena jaraknya begitu dekat. Kami memutuskan untuk keluar karena ingin melihat pemandangan yang lebih indah, tak peduli dengan rintik hujan yang mulai turun ke bumi. Ia genggam tanganku tanpa banyak kata lalu kami sama-sama melihat ke arah langit, takjub pada kembang-kembang di langit yang lebih indah dari bintang.

Kemudian dibawah letusan puluhan kembang api pukul 12, yang aku lihat hanyalah sepasang bola mata yang pendar dan hangatnya mampu mengalahkan seluruh indah kembang api di tengah malam pertama tahun ini.

Selamat datang, 2014. Dan kamu, terima kasih telah menjadi kembang api terindah untukku.



Aulia Angesti
Sunday, January 5, 2013. 10:53

Kamis, 26 Desember 2013

Koran Pagi


Tak ada orang yang suka menunggu. Begitulah kesimpulan yang aku ambil secara dangkal ketika melihat orang-orang dengan ketus meninggalkan tempat duduk mereka karena yang mereka tunggu tak segera datang. Aku pun tak suka menunggu. Namun aku disini lebih senang memperhatikan keketusan orang-orang satu demi satu yang mulai meninggalkan halte karena bus kota tak kunjung menampakkan dirinya. Raut muka masam serta umpatan-umpatan pelan yang mereka lontarkan menggelitik hatiku.

Jarum langsing yang berputar di tanganku sudah menunjuk angka enam, berarti sudah hampir dua puluh menit aku duduk menunggu disini. Bus yang ditunggu tak juga datang, sementara orang-orang lebih memilih pergi dan mencari taksi atau angkutan umum lain demi mengefektifkan waktu yang tak banyak mereka punya.

Jalanan mulai terasa ramai. Suara klakson sedikit-sedikit terdengar dari berbagai penjuru arah. Orang-orang tak sabaran yang juga mengejar waktu hendak menuju sekolah atau tempat kerja. Lampu merah di perempatan jalan juga sudah beralih dari yang hanya berkedip-kedip dengan lampu kuningnya, berfungsi sebagaimana mestinya dengan warna merah, kuning dan hijau secara bergantian.

Kuputuskan untuk beranjak sebentar membeli coklat panas di kedai ujung jalan, lalu mengobrol sebentar dengan kakek baik hati si penjaga kedai. Sebelas tahun berjualan, tak pernah sekalipun ia gagal meracik coklatnya. Kental dan manisnya pas. Aku berpamitan padanya sehabis dia menambahkan satu sendok krim kopi pada coklatku. Untuk menambahkan rasa gurih, katanya.

Aku kembali pada tempat dudukku di halte. Tak banya orang yang duduk disana, kebanyakan meninggalkan halte dengan raut muka ditekuk. Bus belum juga datang padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh menit. Aku kembali menikmati jalanan yang sudah padat dengan sabar.

Beberapa menit berlalu, di kejauhan tampak seorang laki-laki berjalan mendekat. Tangan kirinya digunakan untuk membawa tumpukan koran, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah koran terkenal, seraya mulutnya yang tak henti menawarkannya pada orang-orang yang ia lewati. Kulitnya hitam manis. Pakaiannya lusuh namun bersih, tak lupa topi krem yang tak pernah lupa ia kenakan setiap hari.

Senyumku terkembang ketika ia menghampiri seraya duduk di sebelahku. Ia memberikan koran yang biasa aku baca, kemudian aku memberinya selembar uang lima ribuan. Kami lalu larut dalam perbincangan tentang berita dan informasi dari koran yang ia jual hari ini. Terlepas dari penjual koran, ia adalah kecerdasan nyata yang menelusup masuk memenuhi rongga udara logika yang berputar di pikiranku. Aku merasa tercerahi.

Sepuluh menit kemudian ia pamit untuk melanjutkan menjual korannya yang masih banyak. Aku hanya mengangguk melepasnya pergi. Tak lama bus kota datang. Orang-orang di halte langsung berebut masuk supaya mereka dapat tempat di dalam, sementara aku tak beranjak dari tempatku duduk. Kondektur bus segera menutup pintu karena tahu aku tak akan naik bus itu, bahkan ia mungkin sudah puluhan kali menawariku naik dan aku hanya menggeleng sebagai balasan.

Dan selalu, di setiap pagiku, bukan bus kota yang aku tunggu.



Aulia Angesti
Thursday, December 26, 2013. 09:44

Minggu, 03 November 2013

Sipil vs. Teknik Sipil

Hari Sabtu kemarin, lagi enak-enaknya makan di salah satu tempat bakso Malang favorit, tiba-tiba bang Adit nanya gini:

"Arti 'sipil' itu sebenarnya apa sih?"

Aku kemudian dengan percaya diri menjawab, "Sipil itu ya... yang berhubungan dengan kependudukan. 'Kan sering ,tuh, denger kata 'penduduk sipil'. Pokoknya yang bukan dari bidang kemiliteran deh, pasti disebutnya sipil."

Kemudian dia melanjutkan begini:

"Terus kalau jurusan teknik sipil, gimana tuh? Kan sipil berkenaan dengan kependudukan, nah teknik sipil kan malah berhubungan dengan konstruksi bangunan lah, ngecor dan lain-lain..."

Kemudian aku nge-iya-in. Iya juga ya, kenapa teknik sipil jadinya malah ke konstruksi bangunan dan lain sebagainya.
Penasaran, akhirnya hari ini googling lah tentang sipil, and what I found was:

First, according to KBBI, sipil masih berkenaan dengan kependudukan:
si·pil a berkenaan dng penduduk atau rakyat (bukan militer): bupati terpilih adalah orang -- , bukan TNI




And second, about 'teknik'. Still, from KBBI, its answer of 'teknik' is:
tek·nik /téknik/ n 1 pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yg berkenaan dng hasil industri (bangunan, mesin): sekolah --; ahli --; 2 cara (kepandaian dsb) membuat atau melakukan sesuatu yg berhubungan dng seni; 3 metode atau sistem mengerjakan sesuatu; -- alpin teknik menuruni tebing dng menggunakan baut dan gantungan tempat menyangkutkan tali; -- kateterisasi Dok cara pengobatan dng menggunakan kateter; -- kimia listrik lapangan teknik pemanfaatan listrik sbg sumber energi pd bidang elektrokimia; -- listrik energi lapangan teknik (meliputi perencanaan, pembuatan, penyelenggaraan) mesin, alat, dan instalasi untuk membangkitkan, mengubah, atau menghantarkan arus listrik; -- nontes teknik pengukuran yg tidak menggunakan tes observasi; -- penelitian penjabaran metode penelitian; sistem atau metode penelitian dng meneliti langsung objeknya; -- proyeksi teknik penelitian yg menggunakan pengamatan jiwa responden melalui apa yg dinyatakan responden dl pencerminan dirinya, msl dl tingkah laku, minat, atau gambar; -- tes teknik pengukuran dng menggunakan tes






Nah, dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa benar adanya sipil adalah hal yang berhubungan dengan kependudukan. Sipil dalam frasa ‘teknik sipil’ juga masih berarti sama, yang membedakan adalah adanya kata teknik. Maksudnya pada teknik sipil, dalam opini saya, adalah teknik yang berhubungan dengan kependudukan juga, seperti konstruksi bangunan, jalan, dan lain sebagainya.

Is that answer your question, Dit? :)




Aulia Angesti
Bandung, November, 3rd 2013. 11.00.