Matahari menopang sore nan ganas, kemudi angin masih macet dibelenggu waktu.
Gedung-gedung baru berlari, tak ingin dimakan jaman
Aku pun masih bingung, mengapa biru ini tak enggan untuk tinggal
Tak ada yang patut disayangkan,
Lalu teriakan-teriakan manis ini serta merta menggulung peluh
Waktu tak pernah berhenti tertawa
Apa yang mereka tertawakan? Huh...hah...huh...hah
Seketika bayangan pecahan api di lilin putih muncul
Halus, tanpa asap
Waktu semakin menderu, bulan pucat
Senyum gelap itu tak pernah bisa menahanku
:)
Air tempatku berdiri meruntuhkan titik bias
Ketika itu pula aku layangkan pandang lurus ke depan, tepat dimana ragamu berada
Aku tak memiliki pelabuhan lain untuk perahuku berlabuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar